Tak Hanya Tentang Oleh Oleh, Tapi Hanya Sahabat Sejati Lah yang Dapat Menghargai

MENGHARGAI - Copy

“Dulu pernah dikasi kaos oblong dan juga pernah gantungan kunci dari bos lama di EI waktu beliau (AAM) balik dari Malaysia”.

Kemudian “pernah dikasi gelang dari bos di GH waktu beliau (YIR) balik dari (hmmm, sorry lupa darimana, Papua atau Kalimantan, yg jelas waktu itu beliau bawa 2 gelang dan dikasi ke aku dan teman se-mejaku, dan tidak tau ada berapa banyak orang lagi yang beliau kasi di kantor)”.

Dan beberapa waktu lalu dikasi coklat dari bos yg sekarang (waktu valentine, ya simple hanya coklat). Seminggu yang lalu, bos yg sama ini baru balik liburan dari Timur Tengah dan ternyata beliau tak lupa memberikanku sekotak “Korma (isi hanya 4)”. Dari semuanya itu maen langsung makan (untuk makanan), dan mengenakannya lain waktu untuk barang yang bisa dipakek.

YA, SEMUANYA BARANG KECIL, SEDIKIT DAN TIDAK MAHAL SAMA SEKALI KALO DIPIKIR.

Tapi sorry bro and sist, bukan itu yang ada di pikiranku. Yang aku pikirkan saat itu adalah: “repot kali lah dia bawa bawa itu segala, harusnya dia bisa jalan jalan dan ga usah susah susah nambah bawaan, karena bawaan pribadinya sendiri pasti udah banyak”, dan dengan pikiran itu jadi selalu muncul pemikiran untuk menghargai segala bentuk oleh oleh/pemberian orang lain.

Coba pikirkan, saat kita yang berada di posisi si pemberi oleh oleh, kita harus pergi ke toko oleh oleh (padahal kita bisa aja jalan jalan menikmati liburan), belum lagi mikir apa yang akan dibeli untuk oleh oleh, dan belum lagi mikir kalo beli cuman 1, nanti yang lain gimana. Otomatis kita harus beli lebih dari 1, yang artinya kita juga harus menyediakan ruang pada barang barang bawaan kita, belum lagi ada type oleh oleh yang KALO di tarok di bagasi bisa ancur (biasanya makanan), jadi terpaksa lah dia menenteng nentengnya naek ke atas/pesawat (kebayang ribetnya kan? Kecuali anda golongan yang tidak berperasaan).

Kemudian masalah pilah pilih model oleh oleh (untuk type bukan makanan), mungkin kaos/t-shirt, gelang, kalung, sepatu atau tas. Untuk membelikan ini, (se-pengalamanku), aku membuang waktu bisa hitungan jam hanya untuk pilah pilih, karena harus milih yang mana yg cocok sama muka orang yang mau kita kasih. Dari semuanya itu belum lagi kita pikirkan budgetnya. Apalagi kalo ke luar (Indonesia coret), budgetnya bisa lebih besar.

Well, itu cerita tentang keribetan memilih, mencari dan membawakan si oleh oleh. Sekarang tentang saat kita memberikannya. Dalam hal ini ada beragam kejadian: anggap saja si A, si A sudah menelpon dan inbox berulang kali hanya untuk mengatakan “mau oleh oleh” saat kita sedang berada di lokasi liburan, tapi ketika mau diberikan si A selalu memiliki jawaban untuk tidak dapat menghampiri/mendatangi lokasi kita, padahal saat itu si A lah yang kondisinya memungkinkan mendatangi lokasi kita karena si A memiliki kendaraan/mungkin saja meminjam kendaraan karena si A memang lama di sana dan lebih paham jalan yang harus dilewati untuk menuju lokasi kita, sedangkan kita hanya pendatang yang sesekali datang ke sana. Tapi justru kita yang harus susah payah mencari cara agar si oleh oleh bisa kita berikan. Lah bagaimana tidak cari cara???? Kalo itu oleh oleh dibawa bawa balik lagi, artinya harus susah payah lagi membawanya di pesawat, karena memang si A ini berada tidak 1 kota (saat itu di kebun), bayangkan kita harus bolak balik nenteng oleh oleh yang dia minta tapi tak dia ambil. Hingga akhirnya si A benar benar tidak bisa datang pada saat detik detik terakhir kita berada di sana. Ada beberapa kemungkinan yang kita lakukan, kalo barang masih bertahan lama bisa saja itu oleh oleh dibawa balik dan berikan ke tetangga/orang dekat lainnya. Tapi pernah akhirnya dikasi ke driver (yang padahal baru kenal hari itu), pernah juga MEMBUANGNYA. terbersit di pikiran, teman model A ini sekalian aja dibuang dari friedlist di kepala, hehe.

Sekarang si B, si B ini laen lagi, lokasinya begitu dekat dengan kita, bahkan sudah sempat chating chatingan/telpon telponan untuk bahas lokasi kita dimana. Jaraknya sangat dekat, hanya sekitar 1 km, dia punya motor sedangkan kita tidak punya karna lagi lagi hanya sebagai tamu. Namun, tak jauh beda dengan si A, si B ini tak kunjung datang, pada akhirnya si oleh oleh pun di titip pada orang sana (ya berhubung sudah niatan ya harus diberikan walau dititipkan). Mungkin oleh oleh ini tak terlalu berharga, dan yach…. benar saja, si B dalam waktu yang lama tak mengambil ngambil oleh oleh tersebut pada orang yang kita titipin. Sampai sekarang tak tau sudah diambil atau tidak, ya sudah, ikhlaskan saja. Dan kemaren terbersit niatan mau bawain si B ini lagi oleh oleh, tapi berhubung pengalaman sebelumnya jadi niatan diurungkan, daripada mubazir.

Lain lagi si C, sudah diberi oleh oleh, komennya malah: “wah cuman ini yang dibawa?”. Untuk yang satu ini silahkan beri komennya sendiri saja, secara pribadi, berusaha no hard feeling sajah.

Untuk si D, memang dia tidak meminta, tapi berhubung kita merasa ingin membawakan ya kita bawakan saja. Sebenarnya waktu belum tiba di lokasinya, sudah beberapa kali chatingan untuk janjian ketemuan, jawabannya saat itu “gampang bisa diatur”, tapi begitu mendekati hari H mulai banyak alasan, dan pada hari – H si D ini juga memiliki jawaban kenapa tak bisa menemui kita. Well, lagi lagi ya dititipkan saja di pos satpam, diambil monggo tidak diambil ya monggo.

Untuk si E, dia nih yang paling spesial diantara semuanya. Kita sama sekali tidak menargetkannya sebenarnya, tapi ada niat sedikit saja untuk memberikan padanya. Karena memang bukan target utama untuk dikasi, kita pun hanya menitipkannya di pos satpam. Kabar/sms/telpon memang diberikan ke si E dadakan saat kita sudah menuju ke pos, tapi emang type ini ternyata sangat menghargai pemberian orang lain. Begitu mendapat info si E langsung mengejar ke pos satpam berpikir dapat sejenak menemui kita (selaku pemberi oleh oleh) hanya untuk berterimakasih secara langsung. Namun memang waktu kita yang tidak cukup karena harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat, sehingga tak sempat menunggunya lagi. Tapi intinya adalah barang sudah sampai ditangannya, dan dia megucapkan terimakasih lewat sms, dan effort nya yang luar biasa untuk berusaha menemui kita.

Ada lagi si F, dia juga so special sampe sampe membuat kita merasa bersalah tidak memilihkan oleh oleh yang beda type dengan lainnya. Karena si F ini begitu pahamnya arti sebuah pemberian walau kecil. Si F ini akan berusaha mengenakan barang yang pernah kita kasi saat bertemu dengan kita walau barang ini sudah keliatan kusam, tapi dia berusaha menunjukkan pada kita kalau dia menghargai pemberian kita dengan tetap memakainya.

Ngomong ngomong si F, TERUNTUK si F, jadi keinget untuk memberikannya sesuatu lagi ni, karena dia udah punya junior dan cukup lama tak bertemu lagi. 1 catatan lagi, si F ini kalo diajak ketemu akan berusaha maksimal untuk menemui kita (she’s a true bestie friend, padahal kami beda etnis loh, warna kulit aja beda, hehe).

Dari ini semua, marilah belajar menghargai pemberian orang lain, apapun bentuknya. Pikirkan sejenak bagaimana teman atau saudara kita susah payah membawakannya.

Bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas, TAPI dari bagaimana cara si penerima oleh oleh memperlakukan oleh oleh kita, sebenarnya sudah cukup mewakili bagaimana dia mengukur persahabatannya dengan kita.Menghargai-Pemberian-1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s